Muktamar NU: KH As’ad Kuda Hitam dari Bawah Tanah

Lampung – Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung makin menggelegar. Hanya beberapa jam sebelum sesi pemilihan ketua Tanfizdiah digelar, tiba-tiba nama KH. As’ad Said Ali muncul sebagai calon Ketua PBNU. Sontak, kubu Said Aqil Siroj dan kubu Yahya Staquf, yang selama ini diunggulkan, ketar-ketir. Sebab, KH As’ad bukanlah sosok sembarangan. Dia punya sedikit keunggulan dibandingkan dua calon itu.

Dilihat dari segi kepatutan, ketiganya memang pantas memimpin NU. Ketiganya berasal dari keluarga NU dan ketiganya sangat mencintai NU, dan plus ketiganya juga sosok panutan di keluarga besar NU. Namun, yang membuat KH As’ad memiliki nilai lebih adalah, ia cukup lama berkecimpung di dunia intelijen. KH As’ad diangkat menjadi Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pada masa Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pertanyaannya, mengapa Gus Dur mengangkatnya sebagai Wakil Kepala Intelijen. Padahal latar belakang pendidikannya bukan berkecimpung dalam bidang intelijen. Belakangan ketahuan, memang bakat dan insting intelijen KH As’ad cukup kuat. Gus Dur punya alasan kuat mengapa harus memilih KH As’ad.

Ingat, ketika peralihan kekuasaan dari Habibie ke Gus Dur. Waktu itu, saat sidang MPR, nama Megawati menduduki urutan teratas dan cukup untuk terpilih menjadi Presiden RI. Nyaris mustahil bisa mengalahkan Megawati. Namun, tiba-tiba Yusril Ihza Mahendra mengundurkan diri dari bursa pemilihan Presiden, dan balik mendukung Gus Dur. Dan, akhirnya Gus Dur terpilih jadi Presiden RI dengan selisih suara yang sedikit.

Ini bukan faktor kebetulan dan keberuntungan. Bisa jadi, dan punya alasan yang kuat, insting intelijen KH As’ad sudah bekerja dan  “bermain” saat itu. Sebab, KH As’ad adalah satu orang kepercayaan Gus Dur. Sosok Gus Dur yang dengan berbagai kekurangan dan tidak diunggulkan waktu itu, justru mampu menjadi Presiden. Kemungkinan besar “kerja keras” KH As’ad itulah yang membuat Gus Dur mengangkatnya sebagai Wakil Kepala BIN.

Jadi, jika KH As’ad terpilih menjadi Ketua PBNU, NU akan memilki nilai lebih. Sebab, ketika KH As’ad akan mengambil keputusan politik dan keputusan strategis, ia pasti akan memperhitungkan sesuai dengan insting intelijen-nya. Sehingga NU tidak akan mengeluarkan statement dan keputusan yang sembarangan. Paling tidak, apapun yang diputuskan NU sudah berdasarkan latar yang kuat dan menguntungkan bagi warga nahdiyin.

Majunya KH As’ad sebagai calon Ketua PBNU, tentu telah memiliki kajian dan perhitungan yang matang. Sebagai “kuda hitam”, KH As’ad akan melakoni gerakan “bawah tanah” yang ia yakini akan mampu menggaet suara untuk mengungguli kedua calon lain. Seperti yang dianalisis Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, bahwa kalau ada dua kubu yang mengeras, publik biasanya akan memalingkan wajah ke sosok lain yang dianggap bisa jadi sebagai jalan tengah.

Dukungan untuk KH As’ad datang dari berbagai pihak. Satu diantaranya adalah tokoh nasional yang dikenal sebagai sahabat dekat Gus Dur, Rizal Ramli. Dia mengatakan sebagai organisasi masyarakat terbesar, peranan NU dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sangat penting. Termasuk dalam memberi isi dan makna setelah republik ini merdeka.

“Karena itu, Ketua Umum yang baru harus sanggup membawa NU untuk memperjuangkan nilai-nilai keagamaan, kerakyatan, dan kebangsaan. Bukan sekadar mengejar dan menjadi bagian dari kekuasaan. NU diharapkan tetap teguh memperjuangkan cita-cita untuk menegakkan kebenaran dan keadilan untuk kesejahteraan rakyat,” kata pria yang kerap disapa Gus Romli ini.

Sebagai nahdliyin, Rizal ramli berharap pimpinan NU ke depan menjadikan Jam’iyah dan jamaah Nahdlatul Ulama sebagai pusat pengabdian, pusat amal, dan pusat untuk menggembangkan potensi serta kesejahteraan umat Islam khususnya nahdliyin.

“Dalam konteks itu, saya mendukung KH Asad Said Ali sebagai Ketua Umum NU. Kiai Asad memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas di dalam pemerintahan dan tugas-tugas internasional, serta aktif sebagai Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015,” ujar penasehat Forkom Jurnalis Nahdliyin ini.

Sebelumnya dukungan terhadap KH Asad Said Ali untuk memimpin NU juga disuarakan pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim. Dukungan yang disampaikan putera pendiri NU, KH Abdul Chalim itu direspon positif sejumlah pihak, baik struktur maupun organisasi berbasis NU hingga sejumlah pengasuh pondok pesantren.

Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) 2003-2018 Banyuwangi, KH Masykur Ali juga memberikan dukungan serupa. Mantan Anggota BPK ini mengatakan As’ad Said Ali selama ini melakukan banyak kaderisasi di level bawah NU dengan mendirikan Pendidikan Kader Penggerak Nadhlatul Ulama (PKPNU) dan sudah memiliki banyak alumni yang tersebar di seluruh negeri.

“Terbukti beliau KH As’ad Said Ali menginisiasi PKPNU yang mengokohkan warga NU hingga paling bawah,” kata Masykur .

KH As’ad Said Ali adalah mantan wakil kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Dia dipercaya Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjabat di BIN. Ia adalah Alumnus Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta dan Alumni Hubungan Internasional UGM.  KH As’ad Ali mendapat Gelar Doktor Horonis causa dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, dan Penanggung jawab kaderisasi di PBNU.

Pos terkait