Zamrud dari Tanjung Balai: Yusriyyah Sinambela

TANJUNGBALAI – Ada ungkapan menarik dari sahabat Rasulullah. Ali Bin Abi Thalib pernah bilang, “ Semua orang akan mati, kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak,”.  Kemudian Imam Al-Ghazali juga pernah mengatakan, “ Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.

Agaknya, inilah yang mengilhami Yusriyyah Sinambela. Gadis belia asal Tanjung Balai, Sumatera Utara ini, mampu menyelesaikan 18 buku karyanya, yang kini telah beredar di Sumatera Utara. Hebatnya, seluruh biaya proses penerbitan bukunya itu, diambil dari koceknya sendiri, tanpa meminta dari orang tuanya. “ Saya ingin mandiri, “ kata Yusriyyah kelahiran 12 Agsutus 2001 ini.

Yusriyyah memang berbeda dengan gadis seusianya. Mahasiswi semester V Fakultas Hukum Universitas Asahan (UNA) ini tak larut dengan era globalisasi. Tak terpengaruh dengan budaya Barat, apalagi glamour. Dalam dirinya hanya terlihat kesederhanaan dan keanggunan, seakan menampilkan kultur masyarakat tepi pantai yang dekat dengan budaya keislaman.

Tutur kata nan indah, serta adab dan kesopanan yang terjaga, membuat Yusriyyah menjadi bunga yang harum di tepian Sungai Bengawan. Harumnya menembus sela-sela Sungai Batang Gadis di Tapanuli Selatan sampai Sungai Deli di daerah Belawan. Sungguh, perestasi yang harus dibanggakan. Tak hanya untuk tanah kelahiran, tapi juga untuk masyarakat yang punya kepedulian.

Awalnya, Yusriyyah, anak sulung dari enam bersaudara ini, tak terpikir untuk menjadi seorang penulis. Kedua orang tunya juga bukan dibesarkan dari keluarga penulis. Namun, kerangka berfikirnya yang melebihi dari usianya itulah, yang menyeret raga Yusriyyah ke samudra tulis menulis. “ Ini berkah dari Allah, “ jelas Yusriyyah.

Ketertarikan Yusriyyah dalam dunia tulis menulis, dimulai saat pandemi covid-19 melanda negeri ini, awal 2020. Waktu itu, pemerintah meluncurkan aturan, semua warga “dikurung” dalam rumah. Saat itulah, insting Yusriyyah bekerja. Ia lalu berinisiatif membuat tulisan. Diakuinya, mulanya hanya iseng, namun setelah mendapatkan nikmatnya menulis, Yusriyyah malah kecanduan, dan akhirnya membuahkan beberapa buku.

Buku pertama yang diluncurkannya adalah Beutifull Night (Antalogi Puisi). Setelah beredar di dunia maya, buku itu mendapat sambutan hangat dari netizen. Yusriyyah pun bertambah semangat. Ternyata karyanya diterima di tengah-tengah masyarakat. Sekaligus ini membuktikan bahwa dirinya memang lahir ke dunia. Yusriyyah bukanlah imajinasi, tapi zat yang menghiasi indahnya panorama duniawi.

Berbekal segepok semangat, akhirnya Yusriyyah mampu menyelesaikan 18 buku karyanya selama setahun. Ini bukan pekerjaan yang gampang. Perlu keseriusan dan ketekunan, yang mungkin tak dimiliki semua orang. Tapi, bagi Yusriyyah, ini justru sebagai cambuk untuk menciptakan karya-karya besar lainnya. Sebab, dari karya-karyanya itulah, akhirnya Yusriyyah mendapatkan banyak penghargaan dan pujian. Tapi, bukan itu tujuannya. Yang pasti, apa yang telah dilakukan Yusriyyah adalah motivasi yang tak ternilai bagi generasi selanjutnya.

Yusriyyah memang telah menciptakan zamrud di tanah kelahirannyya. Sayangnya, sampai saat ini, baik pemerintah kota Tanjungbalai, Pemprovsu atau pemerintah pusat belum meliriknya, kendati berbagai penghargaan telah diraihnya.Padahal, Yusriyyah sendiri kepingin melanjutkan atau memperdalam kepiawiannya itu, bila perlu, sampai ke luar negeri.

Tentu saja, Yusriyyah perlu dana untuk itu. Ia pun berharap agar pemerintah membuka mata untuk membantunya memperdalam ilmunya. Yusriyyah adalah anak bangsa yang memiliki talenta, dan telah membuka cakrawala bagi generasi selanjutnya. Apakah wajar pemerintah berdiam diri untuk masa depannya ? Tak usah dijawab Pak, cukup renungkan saja.

Pos terkait