Filsafat Ibadah Ramadhan: Dari Imsak Menuju Moderasi Beragama

Oleh: Dr. Solahuddin Harahap, MA
( Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan)

Salah satu kata kunci yang penting dari pelaksanaan ibadah Puasa Ramadhan adalah ‘Pintar Imsak’ atau mengerti berimsak secara baik dan berkuitas. Secara umum Imsak dipahami sebagai usaha seorang yang sedang berpuasa untuk terhindar dari segala yang dapat membatakan puasa baik secara syari’at maupun hakikat. Sehingga kualitas puasa seseorang sejatinya dapat diukur dari bagaimana ia memahami dan melaksanakan imsak secara lahir maupun bathin. Lalu, oleh karena Ibadah Puasa itu sendiri meliputi berbagai dimensi yakni lahiriah (fisik), nafsiah (jiwa), akliah (nalar atau akal), dan imaniah (spiritualitas),  maka imsak harus meliputi aspek-aspek tersebut dan seterusnya batalnya ibadah puasa pun harus pula mencakup empat dimensi tersebut.

Dari dimensi lahiriahnya (syari’ah), ibadah puasa akan batal ketika seorang yang berpuasa telah sengaja melanggar salah satu dari pekerjaan atau mengalami keadaan yang secara Syar’iý dapat membatalaknnya yaitu makan, minum, jimak, keluar mani, muntah dengan sengaja dan, murtad. Sehingga Imsak Lahiriah adalah upaya kita untuk terhindar dari perbuatan dan keadaan dimaksud selama berpuasa. Sedangkan secara nafsiah (jiwa), terdapat sejumlah pekerjaan serta keadaan yang dapat membatalkan Ibadah Puasa yakni meliputi perkataan bohong, gibah, hasad, fitnah, tidak dapat menjaga pandangan, serta tidak dapat menjaga hawa nafsu dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt dan Rasul-Nya Muhammad Saw.

Secara akliah (nalar dan akal) terdapat sejumlah pekerjaan dan keadaan yang dapat membatalkan Ibadah Puasa yaitu: merencanakan dan berbuat kezhaliman, merencanakan dan berbuat maksiat, merencanakan dan melakukan siasat busuk dan kotor yang dapat merugikan orang lain, merencanakan muslihat dan provokasi untuk memecah belah persataun dan persaudaraan umat, menyusun konsep yang dapat merusak sistem sosial masyarakat, merencanakan pembrontakan atau perusakan terhadap sistem kehidupan berbangsa dan beragama.

Sedangkan secara imaniah, maka upaya memanipulasi ajar agama sehingga menjadi ekstrim, menyebarkan faham agama yang dapat merusak keimaman serta stabilitas kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, berprasangak buruk kepada Allah Swt, melakukan tindakan-tindakan yang mendekatkan kepada kesyirikan, merupakan bagian dari yang dapat membatalkan ibadah puasa. Sejalan dengan hal di atas, maka Imsak dalam maknanya yang lebih aktual adalah setiap upaya yang dilakukan seseorang atau secara bersama-sama oleh oramg-orang yang berpuasa untuk terhindar dari sejumlah perbuatan serta situasi tersebut.

DARI IMSAK KE MODERASI BERAGAMA

Mengaitkan Imsak dengan Moderasi Beragama tidaklah hal yang mengada-ngada, apalagi jika yang dimakaudkan adalah Imsak Hakikat. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling strategis untuk dimanfaatkan sebagai momentum penyempurnaan konsep, pemahaman, dan implementasi Moderasi Beragama dalam kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia. Disebut demikian karena Ramadhan memiliki fasilitas yang sangat kaya untuk dijadikan wadah dan momentum bagi revitalisasi modal sosial umat (social capital) termasuk yang dibutuhkan untuk melakukan penguatan konsep dan implementasi Moderasi Beragama di Indonesia.

Moderasi Beragama sendiri harus bertitik tolak dari kesiapan sikap, mental, pola pikir, dan paradigma untuk menjadi fondasi bagi pemahaman yang pro terhadapnya. Baru kemudian dapat dikembangkan menjadi dasar bagi pembangunan pola atau seni berteologi di ranah pluralitas. Jika Ramadhan ini dapat dilihat sebagai mementum strategis untuk melakukan perubahan, maka sangat memungkinkan jika dirumuskan suatu program yang dapat merobah sikap, cara pandang, paradigma, bahkan seni beragama. Adapain perobahan ini mesti didorong agar dimuali dari individu pelaksana ibadah imsak atau ibadah puasa, untuk kemudian dapat diformulasi menjadi tradisi bersama bahkan budaya bersama atau budaya bangsa.

Salah satu hikmah penting yang mesti diambil dari pelaskanaan Ibadah Puasa itu adalah diperolehnya peluang dan kemudahan bagi kita dalam membangun kesimbangan pada diri kita. Keseimbangan yang dimaksud disini meluputi keseimbangan pada dimensi lahiriah, jiwa, akal dan keimanan. Secara lahiriah, pengaturan pola makan, minum, tidur, bekerja, dan melakukan ibadah ketika berpuasa telah sangat membantu kita dalam menyeimbangkan dan menyelaraskan tubuh. Sedangkan pengaturan pola berbicara, merasa, bersikap, dan bertikdak selama berpuasa telah sangat membantu kita dalam membangun keseimbangan dan keselarasan jiwa dalam konteks individu maupun dalam dalam berinteraksi dengan sesama.

Lebih jauh, pengaturan pola berfikir, penyusunan gagasan, pembangunan konsep dan teori, debat, diskusi, dialog, perenungan dan kontemplasi telah sangat membantu dalam mewujudkan keseimbangan dan keselarasan secara akademik termasuk dalam mengelola dialektika ide menyangkut persoalan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Seterusnya, pengaturan pola ibadah, shalat, shalawat, shadaqah, zikir, tadarrus al-Qur’àn, serta mi’ràj lewat qiyàmullail telah sangat membantu kita dalam membangun keseimbangan dan keselarasan Teologis dan Spiritual dalam kaitannya dengan pola hubungan antara kita dengan Allah Swt.

Keseimbangan lihiriah, jiwa, akademik, teologis, dan spiritualitas ini hanya akan mungkin diperoleh ketika kita dapat memahami dan menjaga kualitas imsak dalam berbagai levelnya. Penting diingat bahwa pencapaian imsak pada setiap level akan saling terkait dan berhubungan. Keberhasilan mencapai imsak lahiriah akan berlengaruh kepada pencapaian keberhasilan pada imsak nafsiah, dan seterusnya hingga imsak imaniah.

Imsak lahiriah yang berkualitas akan mungkin melahirkan keselarasan pada tubuh yang melaksanakannya. Terhadap hal itu Rasulullah Saw menjelaskan “Shûmú Tashihhú”– berpuasalah kamu (imsak) niscaya kamu akan sehat selaras. Sementara imsak nafsiah yang berkualitas akan mampu menyelaraskan jiwa pelakunya yang dibuktikan dengan optimalisasi produksi perkataan, sikap, perbuatan yang baik, patut, arif, moderat, serta bernilai keteladanan. Imsak nafsiah ini sendiri sangat mungkin berhasil karena keberhasilan pada imsak lahiriah.

Adapun imsak akliah (nalar dan akal) yang berkualitas akan dapat melahirkan gagasan, konsep, teori, dan strategi yang dibutuhkan dalam membangun kebersamaan, persaudaraan, persataun, termasuk dalam menciptakan kehidupan yang harmonis. Sebab nalar seorang yang berpuasa akan lebih jernih karena akan senantiasa terpaut dengan kebenaran sejati. Imsak akliah ini berpeluang memperoduksi secara optimal gagasan, konsep, dan teori yang jernih tersebut dikarenakan melemahnya pengaruh nafsu karena keberhasilan pada imsak nafsiah.

Selanjutnya imsak imaniah (teologi & spiritual) yang berkualitas akan mampu menguatkan keterhubungan kita dengan Allah Swt. Imsak inilah yang sesungguhnya akan mengawal keberhasilan kita pada imsak lahiriah, nafsiah, dan akliah yang dimulai dari niat berpuasa serta pemokusan ibadah puasa sebagai wujud dari pengabdian dan kecintaan kita kepada Allah Swt dan Rasul-Nya Muhammad Saw. Keempat level imsak ini mesti diupayakan terlaksana secara berkualitas, agar dari imsak ini dapat lahir sejumlah modal sosial berupa kesiapan secara mental, jiwa, nalar, serta iman yang dibutuhkan dalam menyempurnakan pemahaman dan impelemntasi mkderasi beragama di Indonesia.

PENUTUP

Keberhasilan kita mencapai imsak yang berkualitas pada semua level ini akan menjadikan pelaku imsak sebagai manusia yang memiki fisik yang sehat dan kuat, miliki jiwa yang tulis, bersih, toleran, moderat, penyayang, seterusnya memiliki nalar yang sejati dan konsisten, serta memiliki iman yamg kokoh serta istiqamah. Pencapaian imsak ini akan memberi pengaruh kepada pembentukan citra diri serta jati diri orang berpuasa.

Dari orang seperti inilah akan lahir perkataan, sikap, gagasan, etika, dan tindakan yang arif dan penuh kebijaksanaan vis a vis keragaman budaya, agama, bahkan bangsa. Seterusnya dari kumpulan orang-oramg seperti inilah akan lahir tradisi dan budaya yang dapat mengakomodir setiap keragaman termasuk di antaranya mengakomodir nilai dan prinsip moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Wallàhu A’lam.

Pos terkait