Filsafat Manusia: Dari Bertaqwa Menuju Manusia Pancasilais

Oleh: Dr. Solahuddin Harahap, MA
(Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan)

MEDAN – Dalam perspektif Teologi Islam, bertaqwa atau “al-muttaqú” dapat dilihat sebagai capaian tertinggi dari perjalanan seorang hamba dalam mendekati Tuhan-Nya. Sebab dalam posisi “al-muttaqu” ini, seorang hamba diyakini telah mampu membangun ikatan berbasis pengenalan sejati (al-ma’rifah), cinta dan kasih sayang (al-mahabbah), serta upaya meniru dan mengadaptasi (al-ittihād) dengan Allah Swt. Hanya saja, kata “al-muttaqu” ini sering sekali diposisikan sebagai idiom imaginer yang sangat sulit aktualisasinya dalam kehidupan nyata. Sehingga besarnya anugerah dan keutamaan yang disediakan Allah Swt dan Rasulullah Saw bagi peraih taqwa ini, tampaknya tidak berbading lurus dengan ketertarikan sebagian kita untuk meraihnya.

Dalam konteks Ibadah Ramadhan misalnya, Rasulullah Muhammad Saw, telah memberikan sindiran lewat salah satu Hadis “Betapa banyak orang  yang berpuasa atau melaksanakan Ibadah Ramadhan, tetapi tidak menargetkan atau memperoleh apa pun dari usahanya kecuali rasa lapar dan haus”. Dalam konteks lain, perkataan Rasulullah ini dapat dilihat sebagai sindiran terhadap sejumlah orang yang tidak sempat manargetkan pencapaian taqwa dari Ibadah Ramadhan yang dilakukannnya, disebabkan salah satunya karena kurang tertarik dengan perolehan tawqa tersebut. Realitas  “kurang tertarik” ini boleh saja disebabkan karena kurang jelasnya aktualisasi serta dampak posisi taqwa tersebut terhadap kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Berdasarkan itu, agaknya penting untuk melakukan pembacaan ulang terhadap hakikat taqwa ini serta melihat dampak dan manfaatnya bagi kehidupan dan peradaban, sehingga upaya pencapaian taqwa akan tetap memiliki daya tarik bagi seorang muslim, baik dalam konteks dirinya sebagai hamba Allah Swt, juga sebagai seorang anak bangsa, bahkan sebagai seorang kontributor kemajuan peradaban mulia. Pembacaan itulah yang akan diuraikan dalam tulisan singkat ini.

MANUSIA PANCASILAIS SEBAGAI AKTUALISASI TAQWA

Idiom “al-muttaqu” dapat disejajarkan dengan idiom “al-insān al-kāmil” dalam khazanah Filsafat Islam. Al-Insān al-Kāmil__ secara bahasa dapat dimaknai sebagai prototife manusia paripurna yang layak diberi gelar sebagai murid para nabi “waratsatu al-anbiyā” dalam melanjutkan kerja-kerja kekhalifaan di bumi. Menarik sekali, ketika kita memperhatikan kalimat yamg disampaikan oleh Rasulullah Muhammad Saw “warastatu al-anbiyā”__ dengan menunjuk sejumlah Nabi sebagai yang harus diwarisi, meskipun sejatinya project para Nabi sebelumnya, telah pun disimpulkan dan dituntaskan oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Penyebutan “Para Nabi” ini, dapat diduga sebagai wujud dari kesadaran historik bahkan kesadaran atomistik (adanya kekhasan masing-masing) pada diri Rasulullah Saw, terhadap setiap jejak dakwah para Nabi di wilayah dan eranya masing-masing. Atas kesadaran ini kemudian, seolah terdapat isyarat bagi kita untuk kembali melakukan upaya filterasi dan adaptasi terhadap jejak dakwah Rasulullah Saw vis a vis kebutuhan walayah dan era yang kita hadapi. Konsisten terhadap hal itu, maka “al-muttaqu” yang disejajarkan dengan al-insān al-kámil dalam khazanah Filsafat Islam, atau Ulùlalbāb dalam khazanah Tafsir, dapat diadaptasi serta difilterasi berbasis kesadaran lokal Indonesia menjadi Manusia Pancasila (Manusia Pancasilais).

Kembali kepada konsep al-insān al-kāmil dalam khazanah Filsafat Islam, dengan menoleh kepada penjelasan Abdul Karim Ibn Ibrahim al-Jili__ yang menegaskan bahwa konsepsi al-insán al-kāmil yang bermakna seorang manusia yang mampu secara konsisten mengadaptasi sifat-sifat mulia Allah Swt, serta mengejawantahkannya dalam bahasa kekhalifaan di bumi telah terwadahi secara sempurna pada diri dan kehidupan al-Rasul Muhammad Saw. Mengacu kepada pemaknaan al-Jili di atas, maka untuk melihat bagaimana ketaqwaan dihamparkan dalam kehidupan, cukuplah dengan melihat sejarah kehidupan Rasulullah Saw yang penuh daya tarik dan keteladanan tersebut.

Praktik hidup al-Rasul, sejatinya adalah aktualisasi taqwa dalam bahasa kekhalifaan di bumi, sehingga Ibadah Ramadhan sebagai wadah pencapaian taqwa mestinya dapat dimanfaatkan untuk memahami, merefleksi, dan merenungkan setiap Hadis dan Sunnah (tradisi) Rasulullah Saw selama kehidupan Beliau. Lebih jauh, Ibadah Ramadhan harus dapat dijadikan sebagai upaya membangun daya adaptasi serta filterasi terhadap setiap ucapan, putusan, sikap, serta aksi Rasulullah Saw, agar dapat menyahuti kebutuhan budaya dan bangsa kita, dengan tanpa menghilangkan substansi atau inti dari setiap “Nash” yang disampaikan al-Rasul Saw.

Para Filsuf Muslim seperti Ibnu Arabi, al-Jili, dan Ibnu Miskawaih, seolah telah menemukan titik temu bahwa dalam upaya pencapaian derajat al-Insān al-Kāmil, seseorang harus melalui tahapan-tahapan yakni: (1) pensucian jiwa; (2) penajaman nalar; (3) interkasi dengan dimensi barzakh; (4) interkasi dengan alam ruh. Lewat tahapan ini, maka seseorang akan mampu membangun interaksi ruhani dengan al-Rasul Saw, selanjutnya menetapkan secara bersama-sama tentang sistem adaptasi dan filterasi kebutuhan lokal dari setiap nash yang disampaikan oleh al-Rasul Saw. Lewat upaya ini, maka setiap kesimpulan atau penafsiran para al-Insān al-Kāmil dapat mengakomodir kebutuhan lokal (waktu dan tempat) dimana mereka berada dengan tidak mengganggu kesejatian dan universalitas nash yang dituturkan oleh penghulu al-Insán al-Kāmil yakni al-Rasūl Saw.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, maka prototife al-Insān al-Kāmil adalah dia atau mereka yang mampu menangkap benang merah antara jejak dakwah peradaban yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah Saw, dengan kebutuhan kita sebagai masyarakat berbudaya, berbangsa, dan beragama di Indonesia. Terhadap hal ini, menarik sekali ketika Pancasila diyakini sebagai inti sari dari pengayaan kearifan lokal budaya kita (jejak dakwah Nabi lokal) yang telah dikonfirmasi dengan substansi Islam atau wahyu yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah Saw, selama hidupnya. Konsisten akan hal tersebut, maka Pancasila dapat dilihat sebagai simpul dari penafsiran , adaptasi, serta filterasi terbaik oleh al-Insān al-Kāmil Indonesia terhadap jejak dakwah al-Rasul yang dibutuhkan masyarakat Indonesia dalam memajukan masyarakat dan bangsa, seterusnya dalam menopang pembangunan peradaban mulia di bumi.

Memang, Pancasila sendiri telah disusun dalam formulasi yang sangat konseptual bahkan universal, sehingga sering sekali dianggap kurang take for granted vis a vis keragaman dan dinamika yamg dihadapi oleh lokal bangsa kita. Karena itu, bangsa ini sangat membutuhkan hadirnya al-Insān al-Kāmil yang baru dengan kemampuan membaca ulang  relasi antara nash yang disampiakan oleh al-Rasul Saw dengan Pancasila, serta membaca ulang sila-sila pada Pancasila untuk melihat kembali kontekstualitas sila-sila tersebut terhadap sejumlah tantangan, persoalan, dan kebutuhan masyarakat dan bangsa kita di era digital 4.0 dan metaverse saat ini. Tentu, statemen ini tidak dimaksudkan untuk mendorong perubahan sila yamg ada, tetapi lebih pada pembaruan cara baca terhadapanya, serta cara membangun korelasinya dengan nash yamg diwariskan al-Rasul pada satu sisi dan dialketika ide dan sosial yang dihadapai pada sisi lainnya.

PENUTUP

Sebagai ibadah peradaban, maka Ramadhan tidak hanya dijadikan sebagai wadah evuasi diri atau individu bagi oramg beriman. Tetapi lebih luas, merupakan ibadah yang mewadahi evaluasi budaya, bangsa, worldview, hingga peradaban dunia. Dalam kaitan itu, maka kita sangat berharap agar kehadiran Ramadhan dapat mewadahi lahirnya kembali manusia-manusia taqwa atau al-Insān al-Kāmil yang memiliki daya baca yang kuat untuk dapat merumuskan tafsir-tafsir baru terhadap nash warisan al-Rasul berbasis kebutuhan lokal. Sebab hal ini sangat kita butuhkan agar kita mampu  melakukan pembaruan secara terus menerus dalam konteks lokal budaya dan bangsa untuk selanjutnya menjadi sarana bagi kontribusi kita terhadap peradaban mulia di bumi. Wallāhu A’lam

Pos terkait