Dunia & Akhirat Menurut Al-Fudhail, Dualitas Cinta dalam Islam

Dunia & Akhirat Menurut Al-Fudhail

FORUMSANTRI – Salah satu Ulama Islam, sebagai agama yang mengajarkan kehidupan seimbang antara dunia dan akhirat menurut Al-Fudhail bin Iyyadh, memberikan perspektif unik terkait motivasi hidup. Al-Fudhail bin Iyyadh, seorang ulama terkemuka, merangkum esensi motivasi dalam Islam dengan ungkapan luar biasa: “Rasa Takut seorang hamba kepada Allah sesuai kadar ilmunya tentang Allah, dan sikap perendahannya terhadap dunia sesuai dengan kadar kecintaannya terhadap akhirat.”

Pernyataan ini memunculkan pemahaman bahwa motivasi sejati dalam Islam adalah hasil dari dua bentuk cinta yang bersifat kontrast: cinta terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat. Menariknya, Al-Fudhail menyatakan bahwa kedua cinta ini tidak akan pernah bersatu, menyoroti dualitas yang mendalam dalam perjalanan spiritual seorang Muslim.

Cinta terhadap dunia mencerminkan pemahaman akan kefanaan dan sementara dari segala hal duniawi. Dalam Islam, dunia dianggap sebagai ujian, tempat di mana keputusan-keputusan kita membentuk nasib kita di akhirat.

Kecintaan terhadap dunia bukanlah hal yang salah selama tidak menggantikan posisi utama, yaitu cinta kepada Allah dan akhirat. Al-Fudhail menunjukkan bahwa sikap perendahan terhadap dunia seharusnya sejalan dengan tingkat kecintaan terhadap akhirat. Semakin besar cinta terhadap akhirat, semakin rendah sikap terhadap dunia.

Cinta terhadap akhirat, dalam konteks ini, mencerminkan keinginan yang mendalam untuk mencapai kebahagiaan abadi di sisi Allah. Akhirat adalah tujuan utama dalam ajaran Islam, di mana segala amal perbuatan kita diukur dan dihargai.

Kecintaan terhadap akhirat memandu perilaku sehari-hari, merangsang ketaatan dan kebajikan. Kesadaran akan keberlanjutan kehidupan setelah mati menjadi pendorong utama untuk berinvestasi dalam amal shaleh dan meninggalkan perilaku buruk.

Namun, menarik untuk dicatat bahwa Al-Fudhail menyatakan bahwa kedua cinta ini tidak akan pernah bersatu. Apakah ini berarti seorang Muslim harus memilih salah satu cinta di antara keduanya? Tidak sepenuhnya. Sebaliknya, itu menekankan pada keharusan menyeimbangkan kedua cinta tersebut.

Kecintaan terhadap dunia haruslah sejalan dengan kecintaan terhadap akhirat, tetapi tidak boleh melampaui atau menggantikan prioritas tertinggi, yaitu cinta kepada Allah dan keberlanjutan hidup setelah mati.

Motivasi Islam, dengan paradoks dualitas cinta ini, memberikan arahan yang jelas bagi umat Islam. Mereka diajak untuk hidup dalam dunia ini dengan penuh tanggung jawab, menggunakan segala yang Allah berikan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan abadi di akhirat.

Kesadaran akan kefanaan dunia tidak boleh membuat mereka terjebak dalam keserakahan atau kesenangan semata, tetapi seharusnya menjadi pemicu untuk berlaku adil, bermurah hati, dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Dalam konteks ini, ilmu memiliki peran sentral. Rasa takut kepada Allah, sebagaimana disebutkan oleh Al-Fudhail, sejalan dengan kadar ilmu seseorang tentang Allah. Semakin dalam pemahaman terhadap kebesaran dan keadilan Allah, semakin besar rasa takut dan kecintaan terhadap-Nya.

Oleh karena itu, pembelajaran dan refleksi terus-menerus tentang ajaran Islam menjadi kunci untuk memperkuat motivasi dan menjaga keseimbangan antara dua cinta yang tampaknya bertentangan ini.

Dengan demikian, motivasi dalam Islam tidak hanya mengandalkan dorongan lahiriah semata, tetapi juga diperkuat oleh kesadaran spiritual, pemahaman, dan keseimbangan antara dua cinta yang mencirikan perjalanan hidup seorang Muslim.

Dalam kerangka ini, Islam memberikan landasan yang kokoh untuk hidup bermakna, mengarahkan cinta dan motivasi menuju kebahagiaan abadi di akhirat, tanpa melupakan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan duniawi.

Pos terkait