Pandangan Islam, Pemahaman Catatan untuk Penolak Bahan Kimia

pandangan islam penolakan kimia

FORUMSANTRI – Dalam era modern, di mana kesadaran terhadap kesehatan dan lingkungan kian meningkat, muncullah gerakan pandangan islam penolakan kimia. Gerakan ini menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak negatif penggunaan bahan kimia dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari makanan hingga produk rumah tangga. Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap isu ini?

Islam, sebagai agama yang menjunjung tinggi kesehatan dan kelestarian alam, tentunya tidak menutup mata terhadap potensi bahaya bahan kimia. Al-Quran dan Hadis banyak memuat ayat dan sabda nabi yang menganjurkan umatnya untuk menjaga kesehatan dan lingkungan.

Salah satunya adalah hadis riwayat Muslim: “Tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau menggali sumur kemudian ada burung atau binatang melata yang makan darinya melainkan akan dicatat sebagai shadaqah baginya.” Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kelestarian alam dan menghindari tindakan yang merusak lingkungan.

Namun, Islam juga tidak serta merta menolak semua jenis bahan kimia. Perlu dipahami bahwa bahan kimia merupakan bagian dari ciptaan Allah SWT.

Beberapa di antaranya bahkan memiliki manfaat besar bagi manusia, seperti dalam bidang kesehatan, pertanian, dan teknologi.

Al-Quran sendiri bahkan menyebutkan manfaat bahan kimia tertentu, seperti dalam Surat Al-An’am ayat 91: “Dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu dengan air itu Kami tumbuhkan segala macam tumbuh-tumbuhan; dan dari biji-bijian yang Kami keluarkan dari tanaman itu Kami tumbuhkan kebun-kebun yang bertumpuk-tumpuk.”

Ayat ini menunjukkan bahwa air hujan, yang secara teknis merupakan senyawa kimia H2O, berperan penting dalam pertumbuhan tanaman dan keberlangsungan ekosistem.

Oleh karena itu, sikap yang tepat terhadap bahan kimia bukanlah menolaknya secara total, melainkan menggunakannya dengan bijaksana dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

  1. Istihsan (mencari kebaikan): Setiap tindakan, termasuk penggunaan bahan kimia, harus didasarkan pada pertimbangan kebaikan yang lebih besar. Jika potensi manfaatnya lebih besar daripada risiko bahayanya, maka penggunaan bahan kimia tersebut dibolehkan. Misalnya, penggunaan pestisida dalam pertanian untuk mencegah hama dan meningkatkan produksi pangan dapat dibenarkan, asalkan pestisida yang digunakan aman dan ramah lingkungan.
  2. Ihtiyat (kehati-hatian): Meskipun dibolehkan, penggunaan bahan kimia harus dilakukan dengan kehati-hatian. Umat Islam dianjurkan untuk memilih bahan kimia yang aman dan teruji, serta mengikuti aturan dan dosis penggunaannya dengan cermat. Menghindari bahan kimia yang diketahui berbahaya atau belum teruji keamanannya merupakan bentuk ihtiyat yang dibenarkan dalam Islam.
  3. Islah (perbaikan): Umat Islam dituntut untuk terus menerus mencari solusi yang lebih baik dan ramah lingkungan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk penggunaan bahan kimia. Pengembangan biopestisida atau pupuk organik sebagai alternatif pengganti bahan kimia sintetis merupakan contoh upaya islah yang sejalan dengan ajaran Islam.

Dengan berpegang pada prinsip-prinsip tersebut, umat Islam dapat mengambil sikap yang moderat dan bijaksana terhadap penggunaan bahan kimia.

Tidak terjebak pada penolakan total tanpa dasar, namun juga tidak bersikap apatis terhadap potensi bahayanya. Sikap yang seimbang inilah yang akan membawa kita kepada kehidupan yang sehat, sejahtera, dan selaras dengan ajaran Islam.

Perlu diingat bahwa artikel ini hanyalah pandangan sekilas mengenai perspektif Islam terhadap bahan kimia. Untuk memahami lebih dalam, diperlukan kajian yang lebih mendalam terhadap ayat-ayat Al-Quran dan Hadis serta fatwa-fatwa ulama yang kompeten.

Marilah kita bersama-sama menjaga kesehatan dan lingkungan, dengan memanfaatkan limpahan rahmat Allah SWT berupa ciptaan-Nya, termasuk bahan kimia, dengan penuh tanggung jawab dan hikmah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *