Benturan Tradisi & Ajaran Islam Dalam Menyambut Ramadhan Di Indoneisa

Benturan Tradisi & Ajaran Islam

FORUMSANTRI – Indonesia, negeri yang kaya dengan keberagaman, tak hanya flora fauna, namun juga budaya dan kepercayaan. Islam, agama mayoritas di tanah air, telah berpadu harmonis dengan tradisi lokal selama berabad-abad, melahirkan praktik keagamaan yang unik dan khas. Menjelang bulan Ramadhan, momen suci penuh berkah, akulturasi ini semakin terasa. Namun, tak jarang muncul benturan tradisi dan ajaran Islam dalam menyambut ramadhan, menimbulkan pertanyaan tentang kelestarian adat dan syariat.

Beberapa tradisi menyambut Ramadhan di Indonesia memang bertentangan dengan ajaran Islam. Berikut beberapa contohnya:

  1. Upacara Naik Pantun: Tradisi ini, terutama di daerah Melayu, melibatkan ritual pemujaan kepada dewa-dewa dan makhluk halus, memohon keberkahan dan kelancaran selama bulan puasa. Praktik ini bertentangan dengan tauhid, prinsip keesaan Tuhan dalam Islam.

  2. Memasang Pantang: Tradisi pantang, seperti memasang larangan di pohon atau perempatan jalan, berakar pada kepercayaan animisme dan dinamisme. Islam melarang praktik ini karena dianggap menyekutukan Tuhan dan tidak sesuai dengan logika.

  3. Pawai Bedug: Pawai keliling kampung sambil memukul bedug, drum besar khas masjid, sering dilaksanakan untuk membangunkan warga sahur. Meski niatnya baik, pawai ini terkadang diwarnai dengan hura-hura dan kebisingan, bertentangan dengan ajaran Islam tentang kesederhanaan dan menghormati ketenangan orang lain.

  4. Pesta Makan Sahur: Sebagian masyarakat, terutama di kota besar, menggelar pesta makan besar sebelum sahur. Meski dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi, tradisi ini dapat memicu pemborosan dan mengabaikan esensi puasa, yakni menahan diri dan berlatih kesabaran.

  5. Takbiran Keliling: Takbiran, kalimat pengagungan kepada Allah, memang dianjurkan selama Ramadhan. Namun, takbiran keliling dengan menggunakan kendaraan bermotor dan suara bising, selain mengganggu ketertiban umum, juga berpotensi menimbulkan kecelakaan.

Lalu, bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap tradisi-tradisi ini?

  1. Menghargai Nilai-Nilai Budaya: Meskipun bertentangan dengan ajaran Islam, tradisi-tradisi tersebut memiliki nilai-nilai budaya yang patut dihargai. Upacara Naik Pantun, misalnya, dapat dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas datangnya bulan Ramadhan.

  2. Melakukan Ijtihad: Ulama dan tokoh masyarakat dapat melakukan ijtihad, yakni penafsiran hukum Islam berdasarkan kaidah-kaidah yang ada, untuk mencari solusi yang sesuai dengan konteks budaya setempat. Ijtihad dapat membantu melestarikan tradisi dengan tetap menjaga kemurnian ajaran Islam.

  3. Memfokuskan pada Esensi Ramadhan: Inti dari Ramadhan adalah berpuasa, menahan diri, dan meningkatkan ibadah. Umat Islam sebaiknya fokus pada pemenuhan kewajiban tersebut, tanpa terjebak pada tradisi yang tidak sesuai syariat.

  4. Melakukan Sosialisasi dan Edukasi: Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menyelaraskan tradisi dengan ajaran Islam sangatlah penting. Hal ini dapat dilakukan melalui ceramah, diskusi, dan media massa.

  5. Menumbuhkan Toleransi dan Kerukunan: Perbedaan pandangan dan praktik dalam menyambut Ramadhan adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah sikap toleransi dan kerukunan antarumat Islam. Hindari saling menghakimi dan fokuslah pada ibadah dan amal saleh.

Menyambut Ramadhan dengan penuh khidmat dan sesuai syariat adalah harapan semua umat Islam. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa akulturasi budaya dan ajaran Islam di Indonesia menghadirkan tantangan tersendiri. Dengan pendekatan yang bijaksana, menghargai nilai-nilai budaya, dan berpegang teguh pada ajaran Islam, semoga kita dapat memaknai Ramadhan dengan hikmah dan keberkahan, serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *