Menjelang Idul Fitri, Siapa yang Wajib Bayar Zakat Fitrah Anak yang Sudah Bekerja?

membayar zakat fitrah

FORUMSANTRI – Tibalah lagi Ramadan, bulan penuh berkah yang dinanti umat Islam. Mendekati hari kemenangan Idul Fitri, tak lupa kewajiban zakat fitrah yang harus ditunaikan. Namun, muncul pertanyaan seputar anak yang sudah bekerja: siapa yang wajib bayar zakat fitrah nya?

Kewajiban Anak dan Orang Tua dalam Zakat Fitrah

Pada dasarnya, kewajiban zakat fitrah berlaku bagi setiap muslim yang memenuhi dua syarat, yaitu baligh (dewasa) dan muqim (tinggal menetap) di suatu tempat saat malam dan siang hari Idul Fitri. Kewajiban ini terlepas dari status ekonomi masing-masing.

Dalam hal anak yang sudah bekerja, statusnya perlu dilihat kembali. Jika anak tersebut belum baligh, maka tanggung jawab zakat fitrahnya masih berada di tangan orang tua atau walinya. Hal ini sejalan dengan kewajiban orang tua untuk menanggung kebutuhan anak-anaknya yang belum mandiri.

Namun, jika anak tersebut sudah baligh dan memiliki penghasilan sendiri, maka zakat fitrah menjadi kewajibannya sendiri. Ia perlu mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, terlepas dari apakah ia masih tinggal bersama orang tua atau tidak. Kemampuan finansial yang diperoleh melalui pekerjaan menjadi indikator kemandiriannya dalam beribadah, termasuk kewajiban zakat fitrah.

Pandangan Ulama tentang Anak yang Bekerja

Ulama terkemuka seperti Ustaz Abdul Somad dan Buya Yahya turut memberikan pandangan mengenai zakat fitrah anak yang sudah bekerja. Ustaz Abdul Somad berpendapat bahwa anak yang sudah dewasa, baligh, mampu bekerja, dan memiliki penghasilan, maka ia wajib membayar zakat fitrahnya sendiri. Namun, jika orang tua ingin membantu dengan membayar zakat fitrah anaknya, hal tersebut tidaklah salah dan dianggap sebagai sedekah.

Buya Yahya menambahkan bahwa meskipun anak sudah bekerja, orang tua tetap diperbolehkan membayar zakat fitrah untuknya. Ini bisa dianggap sebagai bagian dari nafkah (pembiayaan) kepada anak, terutama jika gaji anak belum mencukupi. Namun, Buya Yahya juga menganjurkan agar anak yang sudah bekerja untuk belajar mandiri dalam memenuhi kewajiban agamanya, termasuk zakat fitrah.

Kepekaan dan Komunikasi untuk Kepatuhan Zakat Fitrah

Situasi keluarga dan kondisi keuangan bisa beragam. Dalam hal zakat fitrah anak yang sudah bekerja, diperlukan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Orang tua perlu peka terhadap kemampuan finansial anak dan tidak memaksakan diri jika gaji anak belum mencukupi. Sebaliknya, anak yang sudah mampu juga perlu memahami kewajibannya dan tidak bergantung sepenuhnya kepada orang tua dalam menunaikan zakat fitrah.

Jika anak berpenghasilan, namun belum cukup untuk zakat fitrah, orang tua bisa membantu atau anak dapat mencari solusi dengan bekerja sambilan atau mencicil pembayaran zakat fitrah. Jangan sampai kewajiban yang mulia ini terlewatkan karena kondisi keuangan yang serba terbatas.

Pandangan Hukum Islam tentang Zakat Fitrah Anak yang Sudah Bekerja

Pandangan hukum Islam tentang zakat fitrah anak yang sudah bekerja dapat dikaji dari beberapa aspek, yaitu:

  • Aspek usia

Usia adalah salah satu syarat wajib zakat fitrah. Menurut kesepakatan ulama, usia baligh adalah syarat wajib zakat fitrah. Baligh adalah usia yang ditandai dengan telah keluarnya air mani secara alami, mimpi basah, atau haid.

  • Aspek kemampuan

Kemampuan juga menjadi salah satu syarat wajib zakat fitrah. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan untuk menyediakan makanan bagi diri dan keluarga pada hari Idul Fitri.

  • Aspek tanggung jawab

Tanggung jawab adalah aspek penting dalam kajian hukum Islam. Dalam hal zakat fitrah anak yang sudah bekerja, tanggung jawabnya menjadi poin utama dalam penentuan siapa yang wajib membayar zakat fitrah.

Dengan mempertimbangkan ketiga aspek tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa anak yang sudah baligh dan memiliki penghasilan sendiri, maka ia wajib membayar zakat fitrahnya sendiri. Hal ini karena ia telah memenuhi syarat wajib zakat fitrah, yaitu usia baligh dan kemampuan.

Pos terkait