Sentuhan Mahram dan Bukan Mahram: Pengaruhnya terhadap Wudhu

menyentuh wanita membatalkan wudhu?

FORUMSANTRI – Dalam kehidupan sehari-hari, kaum Muslim kerap dihadapkan pada situasi di mana terjadi kontak fisik dengan lawan jenis, termasuk menyentuh wanita. Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu? Jawabannya tidaklah sederhana, karena terdapat perbedaan pandangan di antara para ulama fiqih. Mari kita telusuri kajian ringkas mengenai hal ini.

Pendapat Mayoritas: Sentuhan Membatalkan Wudhu

Mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi’i dan Imam Hanafi, berpendapat bahwa menyentuh kulit wanita yang bukan mahram (wanita yang boleh dinikahi) membatalkan wudhu. Pandangan ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya:

  • Hadist riwayat Ibnu Abbas: “Sesungguhnya pandangan itu panah dari panah-panah Iblis, maka barangsiapa yang menundukkan pandangannya, maka Allah akan memberikan cahaya kepadanya di dalam hatinya.” Hadis ini dimaknai bahwa sentuhan dapat memicu pandangan yang berujung pada fitnah dan gangguan setan.
  • Qiyas: Mengqiaskan sentuhan dengan hal-hal lain yang membatalkan wudhu, seperti bersentuhan dengan najis atau buang air kecil. Sama halnya dengan hal-hal tersebut, sentuhan dianggap dapat mengganggu kesucian dan kekhusyukan dalam ibadah.

Syarat-syarat Batalnya Wudhu

Tidak semua sentuhan otomatis membatalkan wudhu. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:

  • Sentuhan langsung kulit ke kulit: Sentuhan melalui pakaian, sarung tangan, atau benda lain tidak membatalkan wudhu.
  • Laki-laki dan perempuan sama-sama baligh: Sentuhan antara anak-anak atau orang dewasa dengan anak-anak tidak membatalkan wudhu.
  • Disengaja: Sentuhan yang tidak disengaja, seperti terdorong atau tersenggol, tidak membatalkan wudhu.

Pendapat Minoritas: Sentuhan Tidak Membatalkan Wudhu

Sebagian ulama, seperti Imam Maliki dan madzhab Hanafi dalam hal tertentu, berpendapat bahwa sentuhan tidak otomatis membatalkan wudhu. Pandangan ini didasarkan pada:

  • Tidak adanya dalil yang eksplisit: Tidak ada ayat Al-Quran atau hadis yang secara spesifik menyatakan bahwa sentuhan membatalkan wudhu.
  • Hukum asal kesucian: Asal hukum manusia adalah suci, sehingga tidak perlu dibebani dengan was-was atau keraguan tentang batalnya wudhu.

Menghormati Perbedaan dan Menjaga Kesucian

Perbedaan pendapat di antara para ulama menunjukkan bahwa tidak ada jawaban tunggal yang dapat diterima semua pihak. Setiap individu Muslim dianjurkan untuk mengikuti madzhab yang dianutinya dan menghormati perbedaan pendapat yang ada. Yang terpenting adalah menjaga kesucian diri dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah dan mengganggu kekhusyukan dalam beribadah.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa wudhu bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk mencapai kesucian yang diperlukan untuk shalat dan ibadah lainnya. Fokus utama haruslah pada pemenuhan kewajiban ibadah dengan hati yang bersih dan ikhlas, terlepas dari perbedaan pandangan mengenai batalnya wudhu akibat sentuhan.

Semoga kajian ringkas ini memberikan pencerahan dan memudahkan para pembaca dalam memahami permasalahan yang diangkat.

Pendapat Jumhur Ulama: Sentuhan Membatalkan Wudhu

Mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi’i dan Imam Hanafi, berpendapat bahwa menyentuh kulit wanita yang bukan mahram (wanita yang boleh dinikahi) membatalkan wudhu. Pandangan ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya:

  • Hadist riwayat Ibnu Abbas: “Sesungguhnya pandangan itu panah dari panah-panah Iblis, maka barangsiapa yang menundukkan pandangannya, maka Allah akan memberikan cahaya kepadanya di dalam hatinya.” Hadis ini dimaknai bahwa sentuhan dapat memicu pandangan yang berujung pada fitnah dan gangguan setan.
  • Qiyas: Mengqiaskan sentuhan dengan hal-hal lain yang membatalkan wudhu, seperti bersentuhan dengan najis atau buang air kecil. Sama halnya dengan hal-hal tersebut, sentuhan dianggap dapat mengganggu kesucian dan kekhusyukan dalam ibadah.

Dalam pandangan jumhur ulama, sentuhan yang membatalkan wudhu harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:

  • Sentuhan langsung kulit ke kulit: Sentuhan melalui pakaian, sarung tangan, atau benda lain tidak membatalkan wudhu.
  • Laki-laki dan perempuan sama-sama baligh: Sentuhan antara anak-anak atau orang dewasa dengan anak-anak tidak membatalkan wudhu.
  • Disengaja: Sentuhan yang tidak disengaja, seperti terdorong atau tersenggol, tidak membatalkan wudhu.

Pendapat Minoritas: Sentuhan Tidak Membatalkan Wudhu

Sebagian ulama, seperti Imam Maliki dan madzhab Hanafi dalam hal tertentu, berpendapat bahwa sentuhan tidak otomatis membatalkan wudhu. Pandangan ini didasarkan pada:

  • Tidak adanya dalil yang eksplisit: Tidak ada ayat Al-Quran atau hadis yang secara spesifik menyatakan bahwa sentuhan membatalkan wudhu.
  • Hukum asal kesucian: Asal hukum manusia adalah suci, sehingga tidak perlu dibebani dengan was-was atau keraguan tentang batalnya wudhu.

Pentingnya Menghormati Perbedaan

Perbedaan pendapat di antara para ulama menunjukkan bahwa tidak ada jawaban tunggal yang dapat diterima semua pihak. Setiap individu Muslim dianjurkan untuk mengikuti madzhab yang dianutnya dan menghormati perbedaan pendapat yang ada. Yang terpenting adalah menjaga kesucian diri dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah dan mengganggu kekhusyukan dalam beribadah.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa wudhu bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk mencapai kesucian yang diperlukan untuk shalat dan ibadah lainnya. Fokus utama haruslah pada pemenuhan kewajiban ibadah dengan hati yang bersih dan ikhlas, terlepas dari perbedaan pandangan mengenai batalnya wudhu akibat sentuhan.

Pertanyaan mengenai apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu tidak memiliki jawaban tunggal. Ada dua pendapat yang berbeda di antara para ulama, yaitu pendapat mayoritas yang menyatakan bahwa sentuhan membatalkan wudhu dan pendapat minoritas yang menyatakan bahwa sentuhan tidak membatalkan wudhu. Setiap individu Muslim dianjurkan untuk mengikuti pendapat madzhab yang dianutnya dan menghormati perbedaan pendapat yang ada.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *