Santri Tebuireng Sukses di Malaysia, Kisah Ali Trimahno

Kisah Ali Trimahno

Santri Tebuireng SuksesBanyak cerita sukses yang melibatkan alumni santri dalam dunia wirausaha. Salah satu contoh inspiratif adalah kisah Ali Trimahno, seorang alumnus Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur.

Setelah menyelesaikan studi di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, Ali Trimahno tidak hanya menorehkan prestasi sebagai lulusan tetapi juga berhasil mengembangkan sejumlah usaha. Saat ini, dia tinggal di Malaysia dan telah sukses menjadi pengusaha yang berkontribusi pada masyarakat.

Masa Santri dan Perjalanan Pendidikan

Ali Trimahno, yang akrab disapa Ali, adalah mantan santri Pondok Pesantren Tebuireng. Ia menghabiskan masa santrinya dari tahun 2000 hingga 2003, menjalani pendidikan di SMA A. Wahid Hasyim. Setelah lulus, Ali mengikuti seleksi penjaringan mahasiswa ke Universitas Al-Azhar di Kementerian Agama (Kemenag) dan berhasil lolos di jurusan syariah.

Keberhasilan Ali menjadi mahasiswa di salah satu kampus Islam terbaik di dunia ini tidak disangka-sangka. Mengingat asal-usulnya dari keluarga petani di Cilacap, Ali sangat bersyukur mendapatkan kesempatan langka ini. Awalnya, ia membiayai pendidikannya sendiri. Namun, setelah berhasil mendapatkan nilai bagus, Ali meraih beasiswa yang meringankan beban keuangannya.

Jejak Sukses di Mesir: Usaha Restoran dan Produksi Makanan

Selama menjalani studi di Mesir, Ali melihat peluang usaha di tengah mahasiswa Indonesia yang berjumlah ribuan. Ia membuka restoran masakan Asia yang ternyata cukup laris di kalangan mahasiswa. Selain itu, Ali juga mulai mengembangkan usahanya dengan memproduksi tahu, tempe, dan tauge.

Makanan hasil produksi Ali tidak hanya diminati oleh masyarakat Indonesia di Mesir tetapi juga oleh penduduk Malaysia, Singapura, dan negara-negara lain. Ali bahkan mengirimkan produknya sebagai bahan makanan ke hotel-hotel berbintang. Dalam menjalankan usahanya, Ali juga memberikan peluang kerja part time kepada mahasiswa Indonesia yang kemudian menjadi bagian dari tim kerjanya.

Dari Wirausaha hingga Rumah Tangga

Setelah tiga tahun sukses menekuni wirausaha di Mesir, pandangan Ali mulai bergeser ke Malaysia. Di sana, ia bertemu dengan Kamariah, seorang gadis asal Malaysia dan sesama mahasiswa Al-Azhar. Setelah menyelesaikan kuliah, Ali dan Kamariah menikah pada tahun 2012 dan memutuskan untuk menetap di Malaysia.

Beralih dari usaha di Mesir, Ali dan Kamariah menjual restoran mereka kepada rekan-rekan Indonesia dan memulai usaha baru di Malaysia. Saat ini, Ali dan istrinya menekuni beberapa usaha sekaligus sebagai bentuk pengabdian. Mereka mendirikan lembaga pendidikan tahfizul Quran dengan 200 santri warga Malaysia, sebagian di antaranya berasal dari keluarga yatim-piatu.

Usaha Lain dan Kegiatan Sosial

Selain lembaga pendidikan, Ali juga terlibat dalam bisnis tour and travel haji dan umrah, yang membawanya sering berada di Makkah dan Madinah. Ia juga membuka toko aksesoris motor gede (moge) di Malaysia, melibatkan pekerja warga Indonesia. Meski sukses dalam berwirausaha, Ali tetap memandang usahanya sebagai bentuk khidmah, pengabdian kepada masyarakat.

Kendala dan Rencana Masa Depan

Meski telah meraih kesuksesan, Ali mengakui bahwa perjalanan berwirausaha tidak selalu mulus. Ia menghadapi tantangan dan pasang surut, tetapi sebagai seorang santri, Ali membawa nilai-nilai ikhtiar, tawakkal, dan kesabaran dalam menghadapi segala cobaan. Keyakinan kuat pada doa dan keberkahan juga menjadi modal utama dalam menjalankan usahanya.

Sementara itu, dalam menjalani kesuksesan, Ali tidak melupakan niatnya untuk terus menimba ilmu. Meskipun telah menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Al Azhar, Ali terus melanjutkan studi S-3 di Bandung. Semangat belajar sepanjang hayat dan niat untuk berkhidmah terus membakar semangatnya.

Silaturahmi dengan Pondok Pesantren Tebuireng

Ali menjaga silaturahmi dengan Pondok Pesantren Tebuireng, tempatnya menimba ilmu dan nilai-nilai keagamaan. Terakhir kali bersilaturahmi pada 2021, Ali bertemu dengan tokoh-tokoh pesantren, seperti KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dan KH Fahmi Amrullah Hadziq (Gus Fahmi). Dalam pertemuan itu, Ali mendapat amanah untuk mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Selangor, Malaysia, meski hingga saat ini masih menghadapi beberapa kendala.

Meski telah sukses dalam berwirausaha, Ali Trimahno tetap merendahkan diri dan mengakui bahwa segala pencapaian yang diraih adalah berkat rahmat dari Yang Maha Kuasa. Kisah inspiratif Ali Trimahno menjadi bukti bahwa semangat santri, dengan niat yang tulus, ikhtiar, dan doa yang kuat, dapat membawa keberkahan dalam berbagai aspek kehidupan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *