Santri dan Politik, Menggali Etika Profetik dalam Pemilu 2024

Etika Profetik Santri

Santri dan PolitikDalam menyambut Pesta Demokrasi 2024, berbagai persiapan telah dilakukan oleh partai politik dan elemen masyarakat. Baliho-baliho dengan wajah-wajah calon kandidat, slogan-slogan melalui flayer di grup-grup WhatsApp, dan obrolan politik di warung-warung kopi menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, di tengah ramainya persiapan, muncul tantangan serius terkait praktik politik yang diwarnai oleh saling jegal, pengkhianatan, dan kemunafikan.

Pada kenyataannya, politik kekuasaan seringkali menunjukkan sisi yang tidak ideal, di mana ambisi untuk meraih kekuasaan dapat merusak nilai-nilai moral dan etika. Teman sejati bisa berubah menjadi lawan hanya karena perbedaan pandangan politik, dan agama yang seharusnya menjadi pedoman hidup suci, kadangkala dijadikan alat untuk menekan lawan politik. Identitas agama seringkali digunakan sebagai senjata untuk meraih dukungan massa, dengan mengklaim kebenaran sepihak yang merugikan unsur-unsur keyakinan.

Bacaan Lainnya

Di tengah realitas politik yang kompleks ini, penting untuk merenung dan introspeksi, terutama menjelang bulan Maulud Nabi dan Hari Santri Nasional. Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, secara berulang kali mengingatkan agar agama tidak dijadikan alat politik. Agama yang mulia seharusnya tidak dijadikan tumbal ambisi politik pragmatis, yang dapat mengancam kedamaian dan kesatuan bangsa.

Untuk melihat relevansi nilai-nilai profetik dan watak santri dalam konteks politik kekinian, dapat diambil contoh dari sifat-sifat Nabi yang patut dicontoh. Pertama, sifat shiddiq atau jujur. Nabi Muhammad saw. selalu menunjukkan kejujuran dalam semua aspek kehidupan, baik dalam urusan pribadi, keluarga, maupun kepemimpinannya di Madinah. Kejujuran menjadi landasan moral yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga politisi dan calon pemimpin seharusnya menjunjung tinggi integritas.

Kedua, sifat amanah atau dapat dipercaya. Nabi Muhammad saw. adalah sosok yang dapat dipercaya sejak kecil hingga menjadi Rasul. Amanah menjadi pilar utama dalam akhlak para nabi, dan dalam politik, kepercayaan dan keamanahan menjadi fondasi yang kuat. Tanpa perilaku amanah, kepercayaan dalam relasi interpersonal maupun organisasi akan terkoyak, mengundang perilaku khianat, korupsi, dan ketidakbertanggungjawaban.

Ketiga, fathanah atau kecerdasan. Para Nabi selalu dianugerahi kecerdasan untuk menangkap pesan Tuhan, mencari solusi atas permasalahan masyarakat, dan membangun argumen yang baik dalam berdakwah. Kecerdasan ini menjadi syarat mutlak bagi seorang pemimpin, terutama dalam menghadapi tantangan dan mengubah keyakinan serta moral masyarakat.

Keempat, tabligh atau kemampuan retorik dalam menyampaikan pesan yang baik dan benar. Sifat ini mencakup kecerdasan verbal yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Dalam dunia politik, kemampuan menyampaikan pesan dengan baik sangat penting, dan politisi seharusnya memiliki tabligh dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Namun, mengingat konteks politik yang seringkali diwarnai oleh ketidakjujuran, pengkhianatan, dan serangan dari belakang, perlu adanya introspeksi dan perubahan paradigma. Politisi dan calon pemimpin harus mengevaluasi apakah cara berpolitik mereka sudah sesuai dengan etika yang dipegang teguh oleh para nabi. Sifat-sifat jujur, amanah, cerdas, dan retorik yang baik harus diperkuat dalam praktik politik sehari-hari.

Selama politik di negeri ini masih terkungkung oleh perilaku yang kurang etis, tidak akan ada kemajuan dan kesejahteraan yang dirasakan oleh masyarakat. Sifat-sifat profetik dan keteladanan para santri dalam mengelola bangsa ini harus menjadi landasan moral berpolitik. Rasulullah saw. memberikan contoh konkrit dalam membangun masyarakat dan bangsa Madinah dengan akhlak yang mulia, dan para politisi dapat memetik hikmah dari nilai-nilai tersebut.

Dengan menanamkan sifat-sifat jujur, amanah, cerdas, dan retorik yang baik, politisi dapat mengubah paradigma politik di tanah air. Kejujuran dan integritas harus menjadi prioritas utama dalam berpolitik, dan agama seharusnya tidak dijadikan alat untuk meraih kekuasaan. Hanya dengan merajut kembali nilai-nilai moral dan etika, politik dapat menjadi alat untuk menciptakan keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Sebuah politik yang diinspirasi oleh nilai-nilai profetik dan semangat santri yang membawa keberkahan bagi bangsa dan negara. Wallahu A’lam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *