Surat Edaran Kemenag, Penggunaan Pengeras Suara di Bulan Ramadan Tetap Diperbolehkan dengan Batasan Speaker Dalam

Pengaturan Pengeras Suara

Surat Edaran KemenagKementerian Agama (Kemenag) Indonesia melalui juru bicaranya, Anna Hasbie, mengklarifikasi surat edaran terkait pedoman penggunaan pengeras suara selama bulan Ramadan. Dalam keterangan resminya, Anna Hasbie menegaskan bahwa surat edaran tersebut tidak melarang penggunaan pengeras suara, namun lebih mengatur teknis penggunaannya untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama dalam menjalankan syiar Ramadan.

Surat edaran yang dikeluarkan oleh Kemenag pada tanggal 18 Februari 2022, dengan nomor SE. 05 Tahun 2022, bertujuan untuk menciptakan ketenangan dan ketertiban dalam penyelenggaraan ibadah di masjid dan musala, terutama selama bulan Ramadan yang merupakan bulan penuh keberkahan bagi umat Muslim.

Bacaan Lainnya

Anna Hasbie menjelaskan bahwa edaran tersebut memang memberikan aturan terkait penggunaan pengeras suara baik di dalam maupun di luar masjid. Salah satu poin penting dalam edaran tersebut adalah penggunaan pengeras suara di dalam masjid saat pelaksanaan ibadah seperti salat tarawih, ceramah, dan tadarus Alquran sebaiknya diarahkan ke dalam masjid.

Menurut Anna Hasbie, aturan ini bukanlah hal baru, karena sudah ada sejak tahun 1978 dalam bentuk Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Instruksi tersebut telah mengatur bahwa bacaan Alquran yang menggunakan pengeras suara selama bulan Ramadan, baik siang maupun malam hari, sebaiknya diarahkan ke dalam masjid.

Pihak Kemenag menjelaskan bahwa edaran ini bukanlah upaya untuk membatasi syiar Ramadan, melainkan lebih kepada pengaturan teknis penggunaan pengeras suara agar suasana ibadah Ramadan menjadi lebih khidmat dan syahdu. Penggunaan pengeras suara yang terlalu keras, terutama antara masjid yang berdekatan, dapat mengganggu ketenangan dan kenyamanan jamaah dalam melaksanakan ibadah.

Anna Hasbie menekankan bahwa aturan ini tidak bertujuan untuk menghambat kegiatan ibadah seperti tadarus Alquran, kajian, dan ceramah, namun justru untuk memastikan bahwa suasana ibadah di masjid menjadi lebih tenang dan khusyuk. Dengan mengatur penggunaan pengeras suara, diharapkan jamaah dapat lebih mudah memahami isi ceramah dan tadarus Alquran, serta suasana ibadah menjadi lebih syahdu.

Lebih lanjut, Anna Hasbie menyatakan bahwa pihak Kemenag juga akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah selama bulan Ramadan. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah melalui digitalisasi perizinan, sehingga proses perizinan acara-acara keagamaan, termasuk penggunaan pengeras suara, dapat dilakukan secara lebih efisien dan transparan.

Diharapkan dengan adanya klarifikasi ini, masyarakat dapat memahami bahwa surat edaran tersebut bukanlah upaya untuk menghambat syiar agama, melainkan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama dalam menjalankan ibadah Ramadan, sejalan dengan semangat keberagaman dan toleransi yang dijunjung tinggi di Indonesia.

Dalam konteks klarifikasi Kementerian Agama Indonesia terkait surat edaran penggunaan pengeras suara selama bulan Ramadan, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Tidak Ada Larangan Penggunaan Pengeras Suara: Klarifikasi ini menegaskan bahwa surat edaran tersebut tidak melarang penggunaan pengeras suara selama bulan Ramadan.
  2. Aturan Teknis Penggunaan Pengeras Suara: Edaran ini lebih mengatur aspek teknis penggunaan pengeras suara untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama dalam pelaksanaan ibadah Ramadan.
  3. Pentingnya Keberagaman dan Toleransi: Kementerian Agama menekankan pentingnya menjaga suasana ibadah yang khusyuk dan syahdu, sejalan dengan semangat keberagaman dan toleransi di Indonesia.
  4. Digitalisasi Perizinan: Pihak Kemenag berencana untuk melakukan digitalisasi perizinan acara keagamaan, termasuk penggunaan pengeras suara, guna meningkatkan efisiensi dan transparansi proses perizinan.
  5. Upaya Peningkatan Kualitas Ibadah: Kementerian Agama berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah selama bulan Ramadan, dengan tetap memperhatikan kenyamanan jamaah dan keberagaman.

Dengan demikian, kesimpulan tersebut menegaskan bahwa Kementerian Agama ingin memastikan pelaksanaan ibadah Ramadan tetap berjalan dengan baik, sambil menghormati keberagaman dan menjaga ketertiban di tengah masyarakat yang beragam.

Pos terkait