Sembahyang Taraweh vs Sembahyang Tahajud: Mana yang Lebih Utama? Dalil di Setiap Pendapat!

sembahyang taraweh vs sembahyang tahajud

Forum Santri – Di antara shalat malam yang utama adalah sembahyang taraweh vs sembahyang tahajud. Pertanyaan yang sering muncul adalah, manakah di antara keduanya yang lebih utama? Bolehkah shalat tahajud dilakukan setelah shalat tarawih dan witir? Artikel ini akan membahas perbedaan pendapat mengenai hal tersebut beserta dalilnya.

Sholat Tarawih: Shalat Malam Berjamaah di Bulan Ramadhan

Sholat tarawih adalah shalat sunnah khusus yang dilaksanakan secara berjamaah pada malam hari selama bulan Ramadhan. Shalat tarawih umumnya dilaksanakan setelah shalat isya dan terdiri dari 8 rakaat atau 20 rakaat, tergantung pada kebiasaan di masjid setempat.

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانَا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْذنْبِه

Barang siapa melakukan qiyam (lail) pada bulan Ramadhan, karena iman dan mencari pahala, maka diampuni untuknya apa yang telah lalu dari dosanya.

Sholat Tahajud: Shalat Malam Sendiri Penuh Keutamaan

Sembahyang Taraweh vs Sembahyang Tahajud

Sholat tahajud adalah shalat sunnah yang paling utama di antara shalat malam selain shalat witir. Shalat tahajud dilaksanakan pada sepertiga malam terakhir, setelah bangun tidur untuk keperluan tertentu.

Dalil sholat tahajud tercantum dalam surah Al Isra ayat 79

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا – ٧٩

Artinya: “Pada sebagian malam lakukanlah sholat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

Pendapat Shalat Tahajud Setelah Sembahyang Taraweh vs Sembahyang Tahajud

Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya melaksanakan shalat tahajud setelah shalat tarawih dan witir. Berikut adalah dua pendapat utama:

1. Boleh Melaksanakan Shalat Tahajud Setelah Tarawih dan Witir

Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Hanafi. Mereka berdalil bahwa:

  • Shalat tarawih tidak menggantikan shalat tahajud.
  • Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat tahajud setelah shalat witir.
  • Shalat tahajud memiliki banyak keutamaan yang tidak boleh dilewatkan.

Dalil:

  • Hadits dari Aisyah RA: “Rasulullah SAW biasa shalat witir sebelas rakaat, kemudian beliau tidur. Beliau bangun dan shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Hadits dari Ibnu Abbas RA: “Rasulullah SAW pernah shalat witir sebelas rakaat, kemudian beliau tidur. Beliau bangun dan shalat dua rakaat.” (HR. Muslim)

2. Tidak Perlu Melaksanakan Shalat Tahajud Setelah Tarawih dan Witir

Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka berdalil bahwa:

  • Shalat tarawih sudah menggantikan shalat tahajud.
  • Shalat witir yang dilakukan setelah tarawih sudah termasuk shalat tahajud.
  • Umat Islam dianjurkan untuk tidur setelah shalat tarawih untuk bangun sahur.

Dalil:

  • Hadits dari Abu Hurairah RA: “Rasulullah SAW tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Hadits dari Ibnu Umar RA: “Rasulullah SAW tidak pernah shalat tahajud setelah shalat witir.” (HR. Tirmidzi)

Yang terpenting:

  • Melaksanakan ibadah dengan ikhlas dan penuh kekhusyu’an.
  • Memanfaatkan bulan Ramadhan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Tips:

  • Bagi yang ingin melaksanakan shalat tahajud setelah tarawih dan witir, dianjurkan untuk melakukan shalat witir kembali setelah shalat tahajud.
  • Shalat tahajud dapat dilakukan dengan dua rakaat atau lebih, sesuai dengan kemampuan.
  • Memperbanyak doa dan munajat kepada Allah SWT di saat shalat tahajud.

Shalat Tarawih Pada Zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan dan memimpin shalat tarawih. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan fadhilahnya, dan menyetujui jama’ah tarawih yang dipimpin oleh sahabat Ubay bin Ka’ab.

Berikut ini adalah dalil-dalil yang menjelaskan, bahwa shalat tarawih secara berjama’ah disunnahkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan dilakukan secara khusyu’ dengan bacaan yang panjang.

Hadits Nu’man bin Basyir, Radhiyallahu anhu : Ia berkata: “Kami melaksanakan qiyamul lail (tarawih) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 bulan Ramadhan, sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan (berakhir) sampai separoh malam.

Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasa’i, Ahmad, Al Hakim. Shahih)

Hadits Abu Dzar Radhiyallahu anhu : Ia berkata: “Kami puasa, tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih), hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat, sampai lewat sepertiga malam.

Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam. Dan pada malam ke lima,beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separoh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada,

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

Barang siapa shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai. maka ditulis untuknya shalat satu malam (suntuk).’

Kemudian beliau ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin shalat lagi, hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya.

Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapat falah. saya (perawi) bertanya, apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata, “Sahur”.(HR Nasai, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad. Shahih)

Tsa’labah bin Abi Malik Al Qurazhi Radhiyallahu anhu berkata: “Pada suatu malam, di malam Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah, kemudian beliau melihat sekumpulan orang disebuah pojok masjid sedang melaksanakan shalat.

Beliau lalu bertanya, ‘Apa yang sedang mereka lakukan?’ Seseorang menjawab, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak membaca Al Qur’an, sedang Ubay bin Ka’ab ahli membaca Al Qur’an, maka mereka shalat (ma’mum) dengan shalatnya Ubay.’ Beliau lalu bersabda,

قَدْ أَحْسَنُوْا وَقَدْ أَصَابُوْا

‘Mereka telah berbuat baik dan telah berbuat benar.’ Beliau tidak membencinya.” HR Abu Daud dan Al Baihaqi, ia berkata: Mursal hasan. Syaikh Al Albani berkata, “Telah diriwayatkan secara mursal dari jalan lain dari Abu Hurairah,dengan sanad yang tidak bermasalah (bisa diterima).”

kedua pendapat tentang sembahyang taraweh vs sembahyang tahajud di atas memiliki dalil yang kuat. Umat Islam dapat memilih di antara keduanya tanpa perlu menyalahkan satu sama lain. Semoga informasi ini bermanfaat!***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *